Lombok Barat, NTB — Waktu seolah berlari bagi Pemerintah Kabupaten Lombok Barat. Tanpa terasa, tepat hari ini, kepemimpinan daerah di bawah nahkoda Bupati Lobar H. Lalu Ahmad Zaini (LAZ), yang dilantik bersama Wakil Bupati Hj. Nurul Adha (UNA) telah genap berusia satu tahun. Sebuah perjalanan yang diakui penuh tantangan, namun dijalani dengan ritme kerja yang nyaris tanpa jeda.
“Jujur, waktu setahun ini terasa begitu singkat karena setiap harinya kami isi dengan bekerja dan terus bekerja. Terkadang sampai lupa waktu, hingga tak sadar hari ini kami sudah satu tahun diberikan amanah oleh masyarakat untuk memimpin pemerintahan ini,” ungkap Bupati dalam refleksi satu tahun kepemimpinannya.
Bupati Lobar H. Lalu Ahmad Zaini menyampaikan rasa syukur dan apresiasi mendalam kepada seluruh masyarakat. Ia tak menampik bahwa awal perjalanan ini berangkat dari realitas politik yang menantang, dengan perolehan suara 28% pada kontestasi lalu.
“Kami sadar tidak semua masyarakat menitipkan kepercayaannya di awal. Secara legitimasi mungkin tidak begitu meyakinkan, namun komitmen kami jelas: setelah terpilih melalui proses demokrasi, seluruh masyarakat adalah tanggung jawab kami. Ini adalah momentum untuk membuktikan bahwa kami bekerja sungguh-sungguh,” tegasnya.
Meski sempat menghadapi dukungan birokrasi yang dinilai masih perlu penguatan di awal, Bupati memilih jalan transparansi dan akuntabilitas. Prinsip “tidak boleh ada satu rupiah pun uang Pemda yang tidak berbasis kinerja” menjadi ruh dalam pengelolaan fiskal yang terbatas.
Hasilnya mulai terlihat pada indikator makro pembangunan:
Indeks Pembangunan Manusia (IPM): Meningkat dari 72,70 menjadi 73,5.
Usia Harapan Hidup: Naik menjadi 73,03 tahun.
Pendidikan: Rata-rata lama sekolah meningkat dari 6,8 menjadi 7,15, dengan penguatan pada sistem tracking lulusan SD/SMP agar tidak ada anak yang putus sekolah.
Kesehatan: Revitalisasi ruang perawatan anak, unit transfusi darah, hingga peningkatan jumlah bed puskesmas dari 47 unit menjadi 107 unit.
Bupati LAZ menuturkan, salah satu terobosan yang paling dirasakan adalah komitmen menghidupkan Kota Gerung sebagai identitas daerah. Bupati menceritakan bagaimana ia kerap merenung di pagi hari melihat kondisi ibu kota yang sepi setelah jam kantor.
“Sejak dilantik, saya fokus memikirkan Lombok Barat. Alun-alun yang sekarang berubah adalah hasil perenungan agar Gerung punya kehidupan dan pertumbuhan ekonomi yang nyata,” tuturnya.
Kedepan, tahun 2026 akan menjadi tahun krusial dengan implementasi janji politik 1 Miliar per Desa. Program ini didesain secara partisipatif melalui Musrenbangdes, di mana setiap dusun diharapkan mendapat alokasi sekitar 100 juta rupiah untuk menggerakkan ekonomi akar rumput.

Menutup refleksinya, Bupati menekankan bahwa pencapaian ini, termasuk keberhasilan mencapai target PAD 100%—sebuah sejarah baru bagi Lombok Barat—bukanlah kerja individu.
“Keberhasilan ini adalah akumulasi kerja bersama, dukungan penuh dari rekan-rekan DPRD, dan seluruh lapisan masyarakat. Kami tidak akan pernah puas karena butuh percepatan yang luar biasa untuk mewujudkan Lombok Barat yang maju, mandiri, dan berkeadilan,” tutupnya












