Kepala MTsN 2 Lobar, Beri Penguatan Kurikulum Berbasis Cinta pada Siswa

  • Bagikan

Lombok Barat, NTB – Pasca serah terima jabatan (Sertijab), Kepala MTsN 2 Lombok Barat, H. Abdul Azis Faradi, M.Pd., langsung “tancap gas” melaksanakan program penguatan karakter. Setelah sebelumnya melakukan pembinaan internal, pagi tadi ia memberikan materi penguatan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di hadapan 318 siswa, Kamis (8/1/2026).

Meskipun situasi sedang hujan, kegiatan yang berlangsung di Gedung Serbaguna (Teras Depan) MTsN 2 Lombok Barat tersebut tetap berjalan khidmat. Sebanyak 43 guru dan karyawan turut mendampingi para siswa yang tampak antusias menyimak pemaparan materi karakter tersebut.

Dalam pemaparannya, H. Abdul Azis menekankan bahwa pembentukan karakter (character building) siswa harus dilandasi oleh rasa cinta yang tulus. Terdapat lima poin utama kecintaan yang menjadi pondasi Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah, yakni:
Cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya: Sebagai landasan spiritualitas utama.
Cinta pada Ilmu Pengetahuan: Mendorong siswa untuk tekun belajar dan bersabar dalam meraih cita-cita.
Cinta pada Lingkungan dan Alam Semesta: Mengajak siswa menjaga kebersihan, keasrian, dan kenyamanan lingkungan madrasah.

Cinta pada Diri Sendiri: Menanamkan rasa percaya diri dan menjaga kehormatan pribadi.
Cinta Tanah Air (Hubbul Wathon): Memupuk jiwa nasionalisme sejak dini.
“Nilai-nilai kecintaan ini harus diterapkan dalam pergaulan dan kehidupan sehari-hari oleh seluruh peserta didik. Ini bukan sekadar teori, tapi panduan hidup,” tegas H. Abdul Azis yang baru saja dilantik pada 5 Januari lalu.

Untuk membangkitkan semangat, kepala madrasah memberikan reward atau hadiah langsung bagi siswa yang mampu menjawab pertanyaan dan menunjukkan keseriusan dalam menyimak materi. Hal ini disambut sorak sorai dan tawa ceria para siswa di tengah suasana dingin akibat hujan.
Menurutnya, kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari visi MTsN 2 Lombok Barat yang ingin mewujudkan generasi yang Islami, Unggul, dan Berprestasi. Dengan Kurikulum Berbasis Cinta, diharapkan madrasah tidak hanya mencetak siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan akhlak yang mulia.

“Cinta adalah energi terbesar dalam pendidikan. Jika anak-anak belajar dengan cinta, maka proses pendidikan akan terasa ringan dan menyenangkan,” tutupnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *